Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2014. Data HIV-AIDS Triwulan IV 2014 yang disajikan adalah bersumber dari Sistem Informasi HIV-AIDS & IMS (SIHA). Mulai periode pelaporan pelaporan Oktober-Desember 2014 terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama seluruh provinsi di Indonesia bulan Mei 2012. Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas laporan. Laporan tahun 2014 dan sebelumnya adalah benar-benar kasus ditemukan pada tahun yang bersangkutan.Berikut adalah Laporan Kasus HIV-AIDS di Indonesia sampai dengan September 2014, yang diterima dari Ditjen PP & PL, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, dr. H.M. Subuh, MPPM tertanggal 12 Februari 2015:

Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Triwulan IV Tahun 2014 sebagai berikut:

Situasi Masalah HIV-AIDS Triwulan IV (Januari-Desember) Tahun 2014
HIV

Dari bulan Januari sampai dengan Desember 2014 jumlah infeksi HIV yang baru dilaporkan sebanyak 32.711 kasus.
Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (71,9%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (15%), dan kelompok umur >= 50 tahun (5,6%).
Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.
Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (52%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (16%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (7%).

AIDS

Dari bulan Januari sampai dengan Desember 2014 jumlah AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 5,494 orang.
Persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun (35%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (28.1%) dan kelompok umur 40-49 tahun (18.3%).
Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (81.3%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (5.1%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (3.3%), dan dari ibu positif HIV ke anak (3.5%).

 

Situasi Masalah HIV-AIDS Tahun 1987 – Desember 2014

Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2014, HIV-AIDS tersebar di 390 (78%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.

HIV

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21.511), tahun 2013 (29.037) dan tahun 2014 (32.711). Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2014 sebanyak 160.138.
Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (34.641), diikuti Jawa Timur (20.761), Papua (7.365), Jawa Barat (13.938) dan Bali (10.188).

AIDS

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 5.153, tahun 2006 (3.692), tahun 2007 (4.728), tahun 2008 (5.314), tahun 2009 (6.403), tahun 2010 (7.179) dan tahun 2011 (8.015), tahun 2102 (9.649), tahun 2013 (10.163) dan 2014 (5.494). Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Desember 2014 sebanyak 65.790 orang.
Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (32,2%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29,1%), 40-49 tahun (11,4%), 50-59 tahun (3,7%), dan 15-19 tahun (3,1%).
Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 54% dan perempuan 30%. Sementara itu 16% tidak melaporkan jenis kelamin.
Jumlah AIDS tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (8.497), diikuti tenaga non-profesional/karyawan (7.741), wiraswasta (7.504), petani/peternak/nelayan (3.162), buruh kasar (2.608), penjaja seks (2.211), pegawai negeri sipil (1.547), dan anak sekolah/mahasiswa (1.491).
Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur (12.347), Papua (11.841), DKI Jakarta (7.963), Bali (4.811), Jawa Barat (4.191), Jawa Tengah (4.079), Kalimantan Barat (2.131), Sulawesi Selatan (1.998), NTT (1.927), dan Papua Barat (1.734).
Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (63,5%), penasun (12,8%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,5%).
Angka kematian (CFR) AIDS menurun dari 2,72% pada tahun 2013 menjadi 1,22% pada bulan Desember tahun 2014.

Layanan
Sampai dengan September 2014, layanan HIV-AIDS yang aktif melaporkan data layanannya, sebagai berikut:

1.583 layanan Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS), termasuk Tes HIV dan Konseling yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (TIPK).
465 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif melakukan pengobatan ARV, terdiri dari 345 RS Rujukan PDP (induk) dan 120 satelit.
90 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).
1.290 layanan IMS (Infeksi Menular Seksual).
214 layanan PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak).
223 layanan yang mampu melalukan layanan TB-HIV.

Sampai dengan bulan Desember 2014, jumlah Lapas/Rutan/Bapas yang melaksanakan kegiatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS sebagai berikut:

148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi).
20 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan penjangkauan.
78 Lapas/Rutan/Bapas memiliki Kelompok Dampingan Sebaya (KDS).
45 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan Konseling dan Tes HIV.
148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan koordinasi.
9 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan layanan PTRM.
127 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan rujukan HIV-AIDS.

 

  Jumlah ODHA yang sedang mendapatkan pengobatan ARV sampai dengan bulan Desember 2014 sebanyak 50.400 orang. Pemakaian rejimennya adalah 97,59% (49.186 orang) menggunakan Lini 1 dan 2,41% (1.214 orang) menggunakan Lini 2.

Statistik Kasus AIDS di Indonesia – dilapor s/d Desember 2014

 

 

Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI

 

 

AIDS DI INDONESIA