Pola Hidup Untuk ODHA

Ada cukup banyak bukti bahwa pola hidup kita sangat mempengaruhi sistem kekeblan tubuh kita, dan kerentanan kita terhadap infeksi lain. Hidup positif adalah tujuan yang baik buat kita semua, walaupun kadang kala sulti tercapai.

Kita semua tahu apa maksudnya dengan pola hidup yang sehat: tidur teratur, makan teratur, olahraga teratur, dan mengurangi konsumsi zat termasuk narkoba, alkohol dan merokok. Penerapannya lebih sulit! Bagian ini akan membahas masalah ini, dan juga penggunaan terapi penunjuang, seperti jamu, akupunktur, dan refleksi.

Namun sebagian dari kehidupan adalah kematian. Kita yang tersentuh oleh HIV sering terdorong untuk menghadapi kematian. Jadi halaman ini juga akan membahas masalah terkait dengan meninggal dunia.

Kita Tidak Sendiri Mungkin Anda baru dinyatakan HIV-positif, sudah mengetahui sejak lama, atau kenal dekat dengan seseorang yang HIV-positif atau AIDS. Semua ini berarti kita hidup dengan HIV. Bisa jadi hal ini adalah kesulitan terbesar yang kita alami dalam hidup. Mesti bagaimana sekarang? Yang penting kita mengetahui kita tidak sendirian.

BERITA

 

Jumlah CD4 yang rendah, merokok dan penggunaan alkohol tidak sehat merupakan faktor risiko untuk eksaserbasi akut PPOK pada oran (19 Februari 2016)

Oleh: Michael Carter, 11 November 2015 Tgl. laporan: 19 Februari 2016

Para peneliti dari US Department of Veterans Affairs melaporkan dalam AIDS edisi online, infeksi HIV meningkatkan risiko eksaserbasi akut dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Jumlah CD4 yang rendah adalah faktor risiko yang signifikan, dan infeksi HIV memperkuat risiko antara PPOK dan penggunaan alkohol dan merokok yang sudah bermasalah.

"Kami menemukan bahwa HIV secara independen terkait dengan peningkatan risiko PPOK, dan penekanan kekebalan, tercermin dari jumlah CD4 awal yang lebih rendah, dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dari PPOK," komentar para peneliti. Mereka menambahkan, "peningkatan risiko PPOK pada orang dengan HIV mungkin berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap bahaya dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dari merokok dan penggunaan alkohol."

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) mempengaruhi sekitar 7% dari populasi Amerika Serikat, menyebabkan jumlah yang signifikan dari kesakitan dan kematian. Penyakit ini berhubungan dengan biaya kesehatan tahunan sebesar $ 60-70 miliar.

HIV sekarang menjadi kondisi yang dapat dikelola dan banyak pasien yang bertahan hidup dengan baik sampai usia tua. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan peningkatan prevalensi PPOK antara pasien dengan HIV, bahkan setelah mengendalikan faktor risiko yang dikenal, seperti merokok.

Para peneliti ingin melihat apakah pasien dengan HIV juga berisiko terhadap eksaserbasi akut PPOK. Oleh karena itu mereka merancang penelitian yang membandingkan tingkat insiden pada lebih dari dua tahun di antara pasien HIV-positif dan orang HIV-negatif yang terdaftar dalam Cohort Virtual dari Veterans Aging Cohort Study.

Para peneliti berhipotesis bahwa kejadian memang akan lebih tinggi di antara orang-orang dengan HIV, dan bahwa faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti jumlah CD4 yang rendah, merokok dan penggunaan alkohol, akan meningkatkan risiko PPOK.

Sebanyak 43.618 orang HIV-positif dan 86.492 HIV-negatif terdaftar dalam penelitian ini. Sekitar 4% dari pasien memiliki diagnosis PPOK pada awal. PPOK didefinisikan sebagai diagnosis rawat inap atau rawat jalan dari kondisi yang disertai dengan steroid dan/atau peresepan antibiotik dalam waktu lima hari.

Pasien diikuti selama 234.099 orang-tahun. Selama waktu ini, 1.428 pasien HIV-positif dan 2.104 HIV-negatif memiliki satu atau lebih diagnosa PPOK. Setengah pasien PPOK memiliki diagnosis PPOK awal.

Tingkat PPOK secara signifikan lebih tinggi di antara pasien dengan HIV dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi (19% vs 13%, p <0,001).

Di antara pasien dengan HIV, jumlah CD4 yang menurun dikaitkan dengan peningkatan risiko PPOK (di bawah 200 sel/mm3, IRR = 2,12; 95% CI, 1,86-2,42; 200-349 sel/mm3, IRR = 1,31; 95% CI , 1,11-1,54). Sebaliknya, penggunaan ART adalah faktor pelindung terhadap diagnosis dengan PPOK.

Secara keseluruhan, infeksi HIV meningkatkan risiko PPOK sebanyak setengah kali lipat (IRR = 1,54; 95% CI, 1,44-1,65).

Bila dibandingkan dengan pasien HIV-negatif, individu dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 (IRR = 2,30; 95% CI, 2,10-2,53) dan antara 200-349 sel/mm3, (IRR = 1,32; 95% CI, 1,15 -1,51) memiliki risiko yang terutama tinggi untuk PPOK. Sebaliknya, pasien HIV-positif dengan jumlah CD4 yang lebih tinggi tidak memiliki peningkatan risiko yang signifikan dari perkembangan PPOK bila dibandingkan dengan orang HIV-negatif.

Merokok saat ini dan masa lalu dan diagnosis yang berhubungan dengan alkohol merupakan faktor risiko untuk PPOK pada kohort ini.

Namun, HIV memperkuat hubungan antara perkembangan penyakit dan merokok saat ini (IRR = 1,18; 95% CI, 1,03-1,35, p = 0,021) dan masalah yang berhubungan dengan alkohol (IRR = 1,22; 95% CI, 1,04-1,44, p = 0,017 ).

"Faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk menargetkan penurunan PPOK dalam uji di masa depan pada pasien terinfeksi HIV harus termasuk merokok saat ini dan penggunaan alkohol," para peneliti menyimpulkan. "Intervensi pada faktor-faktor yang berkontribusi ini dapat menurunkan morbiditas dan biaya yang terkait dengan PPOK terutama pada populasi yang rentan terinfeksi HIV."

Ringkasan: Low CD4 count, smoking and unhealthy alcohol use are risk factors for acute exacerbation of COPD in people with HIV

 

Sumber: Depp TB et al. Risk factors associated with acute exacerbation of chronic obstructive pulmonary disease in HIV-infected and uninfected patients. AIDS 29, online edition. DOI: 10.1097/QAD.0000000000000940 (2015).

 

 

Peningkatan trigliserida merupakan faktor risiko neuropati

Oleh: poz.com Tgl. laporan: 20 Desember 2010

Faktor risiko lain untuk neuropati perifer antara orang yang hidup dengan HIV telah diidentifikasi oleh peneliti: peningkatan kadar trigliserida. Menurut laporan tim studi, yang akan diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi mendatang, mengelola hipertrigliseridemia dapat mengurangi risiko kondisi saraf ini, saran yang harus dieksplorasi dalam penelitian selanjutnya.

Infeksi HIV umumnya terkait dengan neuropati perifer, dengan tingkat prevalensi setinggi 55%, tergantung pada populasi pasien yang disurvei. Tanda-tanda neuropati perifer atau sensorik termasuk rasa sakit, kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki.

Pada tahun-tahun awal pengobatan HIV, risiko neuropati sensorik terakit HIV meningkat seiring dengan rendahnya jumlah CD4 dan viral load HIV yang tinggi. Dengan perkembangan ARV yang efektif dan popularitas penurunan obat HIV yang diketahui menyebabkan neuropati – seperti Hivid (zalcitabine), Videx (ddI) dan Zerit (stavudine) – jumlah kasus baru dari neuropati sensorik telah berkurang secara substansial, namun prevalensi neuropati tetap relatif konsisten.

Para peneliti telah mengamati bahwa kelainan metabolisme, seperti peningkatan gula darah dan lipid, ini sering berhubungan dengan neuropati sensorik. Oleh karenanya, Sugato Banerjee, MD, dari HIV Neurobehavioral Research Center di San Diego dan rekan-rekannya ingin untuk lebih mengeksplorasi hubungan potensial antara kadar lemak tinggi dan neuropati sensorik pada orang yang menerima pengobatan ARV.

Studi mereka melibatkan 436 orang HIV-positif dan 55 orang HIV-negatif yang mengunjungi Pusat antara Januari 2000 dan Desember 2009. Di antara subyek penelitian yang HIV-positif, sebagian besar adalah laki-laki dengan usia rata-rata 47 tahun. Sekitar tiga perempat menerima terapi ARV dan memiliki viral load tidak terdeteksi.

Dibandingkan dengan peserta penelitian yang HIV-negatif, peserta penelitian yang hidup dengan HIV memiliki kadar trigliserida yang secara signifikan lebih tinggi: 245 miligram per desiliter (mg/dL) dibandingkan dengan 160 mg/dL. Para peserta penelitian yang HIV-positif juga lebih cenderung memiliki neuropati sensorik (27%) dibandingkan dengan peserta HIV-negatif (10%).

Peserta studi yang lebih tua dan lebih tinggi dan memiliki sejarah jumlah CD4 yang rendah, diabetes tipe 2 dan pengobatan dengan PI atau statin untuk kolesterol tinggi adalah yang paling mungkin untuk mengembangkan neuropati sensorik, semua faktor risiko yang diidentifikasi sebelumnya. Menariknya, orang HIV-positif dengan riwayat pengobatan dengan Hivid, Videx atau Zerit tidak lebih mungkin mengalami neuropati perifer dibandingkan orang HIV-positif dalam penelitian yang tidak menggunakananalog nukleosida ini.

Trigliserida tinggi juga independen terkait dengan neuropati perifer. Menurut kelompok Banerjee, 145 pasien HIV-positif dengan kadar trigliserida di atas 243 mg/dL adalah 2,6 kali lebih mungkin untuk memiliki neuropati dibandingkan dengan tingkat trigliserida rendah (di bawah 141 mg/dL).

Alasan yang paling mungkin untuk peningkatan trigliserida ini mungkin mengubah cara mitokondria – pusat tenaga dalam sel – memetabolisme energi dan, dengan demikian, dapat mempengaruhi fungsi syaraf.

“Karena peningkatan trigliserida diidentifikasi sebagai risiko utama untuk neuropati sensorik HIV, intervensiyang mengarah pada pengurangan trigliserida dapat mengurangi kejadian neuropati sensorik HIV, kemungkinan yang harus dieksplorasi dalam penelitian yang akan datang,” para penulis menyimpulkan.

Artikel asli: Elevated Triglycerides a Neuropathy Risk Factor